Pengalaman Pertama Pake Kamera Canggih Pinjeman Sehari Besok Dibalikin

Jadi inilah salah satu yang menjadi kesukaan saya, tapi ngga bisa dibilang hobi juga. Cuma kalau ada waktu dan kesempatan. ~kkk. Ini pertama kalinya saya memfoto dengan menggunakan kamera canggih, diatas handphone maksudnya. Hahaha. Itu juga saya pinjem kamera temen, dan seneng nya setengah mati. Memang saat itu orang tua belum ada kesempatan buat membelikan.

Setelah selesai memfoto saya ingin memberi tanda kepemilikan atas foto saya, yah itung-itung biar ada creditnya, dan aplikasi yang saya gunakan juga masih sederhana. Hehe. Entah dari sudut pandang bagaimana saya dapat menjelaskan makna dari foto saya. Ini cuma foto amatir dan belum terpikirkan tentang apa yang ingin saya sampaikan. Ngga ada konsep ngga ada persiapan, cuma riset dan kesenangan.

February 10, 2016, 12:58pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

Neverland : meaning :: Tidak Pernah – Tanah

Kata di atas saya artikan sebagai Neverland dalam arti yang bodoh. Hahaha. Maksud saya, tanah yang ngga pernah terpikirkan sama saya. Selama 17 tahun saya tumbuh di Surabaya. Keputusan untuk pindah ke Semarang sebenarnya sudah ada bertahun-tahun lalu. Tapi mungkin karena keterbatasan ini dan itu jadi tertunda hingga 5 tahun lebih.

Dan 5 tahun itu terasa kayak kemarin buat saya. Tau-tau saya sudah ada di tempat ini, di kamar ini, dengan sebuah kartu perdana di tangan saya bertuliskan “Semarang” di sana.

Dulu saya bisa nolak kalau saya ngga mau pindah dari Surabaya. Setelah saya SMA dan saya sadar harus melanjutkan studi saya ke jenjang perkuliahan, saya bisa apa. Dan sekarang ini, saya cuma bisa ketawa.

Jadi yah………

Rumah saya ada di atas bukit yang ada jurang di sana sini. Di salah satu peruahan yang cukup murah di antara perumahan lain di sekitarnya. Haha. Jalannya naik turun dan di sekelilingi banyak pohon. Buat mencapai sebuah minimarket saya perlu menempuh.. 100 meter. Kebetulan perumahan saya berada di antara 2 universitas, yang salah satunya menjadi tempat saya menambah ilmu nanti. Segala fasilitas umum, pasar, warnet, salaon, dan tetek bengeknya berada di sekitar area kampus. Jadi saya harus mendekati salah satu kampus tersebut untuk memenuhi kebetuhan saya. Melelahkan? nggak kok. Saya sudah bilang kan kalau dikelilingi pohon dan jurang? Dan sungguh, tempat ini enak dilihat. Sangat menyejukan mata. Pemandangan indah, Hal pertama yang menyenangkan hati saya ketika saya berangkat ke kota ini dengan segala pikiran buruk dan rasa putus asa yang mendalam. Ceilah, saya ngga bohong.

Kembali dari perjalan dan sampai di rumah, tipe 36 dengan warna serba putih dan abu-abu. Saya suka dengan rumah ini, setidaknya mungkin jauh dari idaman saya, tapi warna putih membuat saya tenang dan abu-abu satu warna yang menarik buat saya.

Dapur yang sempit, 3 kamar tidur, ruang tamu terbuka dan kamar mandi, yang sama. Hahaha. Sama seperti di rumah sebelumnya, kecil dengan nuansa biru. Ngga jauh berbeda sebenarnya. Hanya… tak seindah sebelumnya. ~kkk

Orang tua melengkapi semua fasilitas saya dan kakak. Kamar tidur terpisah, lengkap dengan sebuah lemari, kasur yang empuk, televisi dan kipas angin.

Sama dengan kebutuhan perkuliahan kami. Papa melengkapi semuanya. Bagi saya dan teman-teman, laptop itu barang yang cukup mahal yang orang tua kami tidak mungkin dengan mudah membelikannya dan jika kami punya seorang saudara, kami hanya akan diberi 1 saja buat dipakai bersama. Tapi saat ini, saya katakan saya dan kakak punya laptop kami masing-masing.

Ya, terimakasih Tuhan buat anugerah ini, anugerah bahwa saya tau saya mendapat berkat yang lebih dari teman-teman saya. Terimakasih juga bahwa Tuhan sudah memberi tahu saya bahwa saya punya seorang ayah yang memberikan hasil jerih payahnya buat keluarga dan saya.

Itu hal kedua yang menyenangkan hati saya.

Berhari-hari yang lalu, saya sudah pergi ke kampus buat mengurus beberapa kepentingan. Ketika sudah sampai, masuk gerbangnya, turun dari mobil dan lihat sekitar. Semua gedung nya dinamakan dengan nama-nama Santo, yang sangat menarik buat saya. Lalu masuk ke gedung administrasi, dengan atap yang ngga tinggi, jadi terlihat nyaman sekali, rapi, bersih, dengan sebuah piano di tengah ruangan. Duh, saya langsung jatuh cinta dengan pemandangan ini. Selanjutnya saya mulai mengurus ini dan itu dan saya juga mulai tau kalau semua orang di sini ramah. beberapa menit kemudian ada seorang bule yang mengajak saya ngobrol, yang saya yakini seorang dosen. Saya jatuh cinta di tempat yang sama.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya melihat banyak cafe dan rumah makan yang sepertinya cukup menyenangkan. Banyak juga toko baju yang sepertinya menjual beberapa barang bermerek, karena bagi saya yang tidak pasaran pasti memiliki desain yang menarik, jadi pasti menyengkan.

Hal ketiga, dan hal keempat yang menyenangkan hati saya.

Neverland.

Kalau dalam sebuah dongeng, semua pasti ingin pergi ke tempat itu. Tapi dalam cerita ini saya bilang bahwa “Neverland” adalah “Tidak Pernah – Tanah” yang memang tidak pernah saya inginkan, saya bayangkan.

Tapi ternyata memang tidak ada yang tau bukan bagaimana sebuah Neverland itu?

Dan inilah saya di tempat ini. Saya salah atas banyak hal, dan ini menyenangkan.

Tapi tentu ini kan kisah saya, kisah nyata yang ngga diadaptasi dari buku, bukan dongen, jadi siapa yang tau gimana akhirnya kan. Saya cuma perlu membaca lagi sampai akhir, dan menceritakannya pada kalian.

August 1, 6:00pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

GPdI Pemulihan : Buah Yang Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Buah yang akan saya ceritakan adalah Gen-P. Generasi Pemulihan. Ya, mereka adalah jemaat remaja yang dengan setia bertumbuh bersama di tempat itu.

Awalnya juga mereka cuma anak-anak kecil yang datang ke sekolah minggu. Mereka yang dulu mungkin tidak bisa diandalkan dan begitu labil. Sekarang mereka sudah menginjak dewasa dan menunjukan kesiapan mereka buat melayani Tuhan.

Tahun lalu, kami diberi kepercayaan buat jadi panitia buat “Natal Biru” kami.

Roy, dia anak kecil yang dulu pemalu. Sekarang dia memegang tanggung jawab untuk OHP. Meskipun ya cuma duduk di delakang selama ibadah, tapi dia tekun menjalankan kewajibannya, terbukti dengan dia selalu datang pagi sebelum ibadah dimulai.

Yemima, salah satu tertua di antara kami yang juga seorang koordinator buat kaum muda. Dia sudah menjadi worship leader pada Minggu ibadah raya jauh sebelum kami.

Albert, dia pemain musik yang awalnya cuma ada di jadwal pemuda. Tapi kemampuan nya semakin mahir jadi dianggap sudah mampu buat melayani di ibadah raya. Dan sekarang pun jadi pemusik tetpa, baik di kamu muda atau pun di jadwal ibadah raya.

Sisanya, para remaja perempuan sudah siap buat jadi singer mendampingi worship leader. Dan remaja pria membantu beberapa hal fisik yang memang diperlukan

Yang terakhir adalah Vita. Yang baru pertama kali menjadi worship leader pada hari Minggu tepat dengan hengkangnya saya dan keluarga dari gereja tersebut. Ya kami harus mengikuti pekerjaan orang tua.

Bagi saya, pemuda di Pemulihan benar-benar seorang teman. Kami melewatkan banyak waktu bareng. Mulai dari kepentingan gereja sampai yang cuma keluar buat main.
Ngobrol soal Natal Biru. Desember 2014 tahun lalu, kami para remaja dipercaya buat jadi panitia natal tahun itu. Yah entah karena kami memang sudah bisa dipercaya atau memang orang dewasa nya yang ngga mau sibuk, hahahaha.

Tapi yang pasti kami merasa cukup bangga diberi kepercayaan seperti itu.

Persiapan pun dimulai dan masing-masing dari kami punya tugas sendiri. Ada yang mengurus masalah listrik yang berarti berkecimpung dengan kabel, alat musik, proyektor, laptop, lampu dan tetek bengeknya. Ada yang mengurus masalah dekor, itu pun dibagi jadi beberapa, dekor bagian tempat duduk jemaat dan dekor mimbar. Ya meskipun kadang yang berkewajiban suka ngelakuin hal lain yang bukan tanggung jawabnya. Hehe.

Saya sendiri punya tugas buat beli semua yang diperlukan dan saya lakukan bersama orang yang cukup klop dengan saya, anak sulung bapak gembala.

Sebenarnya ngga enak, karena itu berarti kami mesti naik motor sana sini. Tapi justru itu sih yang saya suka, secara nggak langsung kami bisa jalan-jalan keluar, lagi pula saya suka berbelanja, maksudnya bukan yang menghamburkan uang begitu, tapi pergi ke sebuah toko dan melihat banyak barang yang menarik buat saya, dan itu seru banget.

Kami biasanya mengerjakan itu semua mulai dari pagi, akrena natal biasanya tepat dengan hari libur. Sampai sore, kalau kami capek bakal pulang dulu buat mandi dan balik lagi. Beli makan bareng dan ngerjain semuanya sambil ngobrol.

Kadang ada satu dua hal di antara kami yang ngga klop dan bisa jadi perusak suasana, tapi ya toh untungnya semua bakal balik lagi ke waktu kita ketawa. Dan bakal mgga kerasa kalau udah mau hari-H.

Jadi natal tahun itu kami buat konsep serba biru. Waktu sudah pukul acaranya, jemaat yang dateng bakal pakai dresscode biru gitu. Ceritanya sih kami paksa mereka buat ngga boleh ada warna lain kecuali biru, kalaupun kepepet cuma boleh hitam atau putih buat aksesoris kecilnya. Kami jadi kelihatan kompak gitu lho.

Karena emang gerejanyanya yang sempit, malam itu ribuan jemaat datang, ceilah, dan seketika itu ruangan jadi panas, apalagi waktu penyalaan lilin malam kudus.

Ini foto kami waktu persiapan acara.

 

Pemuda yang jadi panitia waktu itu juga ngga bisa cuma jadi penonton. Ada yang dijadwal worshipleader, dua orang lain singer, pemain musik, dan operator proyektor, saya sendiri jadi sie dokumentasi bersama teman saya bermodal se-buah kamera, ya jadi kami bakal gantian pegang kameranya, lumayan lah kalau kami capek. Sampai suatu waktu batrainya habis dan terpaksa harus diisi ulang karena bakal ada sesi foto keluarga di akhir acara. Jadi ya, saya, dan teman saya, tidak ada kerjaan, kami pun, ber-santai-ria. Hahahaha.

Acara terus berjalan hingga berakhir dan semua jemaat dipersilahkann turun untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Kemudian sesi foto keluarga dan setelah selesai mereka pulang ke rumah masing-masing. Natal terindah bagi saya.

Selepas itu, pemuda ngga bisa pulang begitu saja. Kami mesti beres-beres gereja. Dan kami pun berkeringat luar biasa dengan baju pesta yang tidak menyerap keringat dan make up di wajah kami. Hahaha.

Kami pun pulang dan berencana mandi tepat pukul 9 malam waktu itu. Hahaha.

Minggu selanjutnya kami tetap melangsungkan ibadah seperti seperti biasa. Ketika jadwal ibadah pemuda, kami melakukan, apa itu yang disebut dengan melakukan pembahasan natal kemarin, ah! Evaluasi. Ya, supaya selanjutnya ngga mengulangi kesalahan dan kekuragan yang sama.

Ngomong-ngomong memang sih kami masih jauh dari sempurna, terlepas dari kami yang masih muda dan jumlah yang terbilang sedikit. Tapi toh acara berjalan sukses tanpa cacat dan kami amat sangat bangga sekali, lah, dengan hasil jerih payah kami. Saya pribadi sih merasa luar biasa, dibanding dengan beberapa pemuda di tempat lain, bahkan dibanding dengan teman-teman saya di sekolah, saya merasa dengan hal tersebut saya jadi punya pengalaman yang selangkah lebih maju dibanding dengan mereka.

Ini foto saat acara sedang berlangsung.

Mungkin bagi kalian sih ini cerita biasa kebanyakan orang, tapi bagi kami, saya, ini adalah cerita yang luar biasa, dimana terlihat jelas kalau kami bangkit dari keterpurukan kami.Tuhan Yesus memberkati.

July 15, 2015, 11:43am
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2