A Day With Pensil Warna

Seorang mahasiswa jurusan DKV yang asli ngga bisa gambar. Itu bio akun instagram saya, beberapa waktu yang lalu sih. Hahaha. Intinya, saya memang bisa dibilang salah jurusan, tapi bukan berarti menyerah pada jurusan.

Saat ini saya sedang dilanda libur berkepanjangan yang membuat saya selalu berdebar tak menentu menanti kurikulum di semester selanjutnya. Mungkin inikah namanya cinta? kagak. Jadi, selama masa pengangguran ini saya suka bengong, memikirkan apa yang akan, dan telah menanti saya. Terkadang saya merasa iri sama teman-teman yang memilikibakat dengan pensil di tangan mereka. Saya mulai melakukan pencarian di internet dan mengetikan keyword “tutorial melukis untuk pemula”. At least, memang banyak artikel yang muncul, tapi semua nya sama di benak saya, “ini apah… bagaimanah… kenapah… ah…”. Sampai suatu moment, muncul suatu artikel yang berjudul “adult’s coloring book”. Yang saya sadari ternyata sedang populer dikalangan para orang tua modern.
Intinya, yang saya temukan adalah sebuah kata indah bernama “Mandalas”.

Baru tau? Belum tau? go searching now! ~kkk. Itung-itung saya promosi, entah apa untungnya. Sungguh, entah. Wkwkwkwk.
Jadi saya mulai mempelajari apa itu Mandalas, dari mana, dan mulai mencoba membuatnya secara manual, melalui tangan saya. Karena kebetulan juga, beberapa waktu sebelum saya menemukan artikel tersebut, salah seorang teman saya memposting karya seninya yang berupa lukisan siput dengan motif yang saat itu masih saya sebut dengan nama “Tribal”. Ya maklum. Mwuehehehe. Saya coba deh buat Mandalas dengan ukuran yang kecil.. karena, capek juga buatnya. Haha.

So, this is it, karya Mandalas pertama says.

February 11, 1:21am
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

Pengalaman Pertama Pake Kamera Canggih Pinjeman Sehari Besok Dibalikin

Jadi inilah salah satu yang menjadi kesukaan saya, tapi ngga bisa dibilang hobi juga. Cuma kalau ada waktu dan kesempatan. ~kkk. Ini pertama kalinya saya memfoto dengan menggunakan kamera canggih, diatas handphone maksudnya. Hahaha. Itu juga saya pinjem kamera temen, dan seneng nya setengah mati. Memang saat itu orang tua belum ada kesempatan buat membelikan.

Setelah selesai memfoto saya ingin memberi tanda kepemilikan atas foto saya, yah itung-itung biar ada creditnya, dan aplikasi yang saya gunakan juga masih sederhana. Hehe. Entah dari sudut pandang bagaimana saya dapat menjelaskan makna dari foto saya. Ini cuma foto amatir dan belum terpikirkan tentang apa yang ingin saya sampaikan. Ngga ada konsep ngga ada persiapan, cuma riset dan kesenangan.

February 10, 2016, 12:58pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

Neverland : meaning :: Tidak Pernah – Tanah

Kata di atas saya artikan sebagai Neverland dalam arti yang bodoh. Hahaha. Maksud saya, tanah yang ngga pernah terpikirkan sama saya. Selama 17 tahun saya tumbuh di Surabaya. Keputusan untuk pindah ke Semarang sebenarnya sudah ada bertahun-tahun lalu. Tapi mungkin karena keterbatasan ini dan itu jadi tertunda hingga 5 tahun lebih.

Dan 5 tahun itu terasa kayak kemarin buat saya. Tau-tau saya sudah ada di tempat ini, di kamar ini, dengan sebuah kartu perdana di tangan saya bertuliskan “Semarang” di sana.

Dulu saya bisa nolak kalau saya ngga mau pindah dari Surabaya. Setelah saya SMA dan saya sadar harus melanjutkan studi saya ke jenjang perkuliahan, saya bisa apa. Dan sekarang ini, saya cuma bisa ketawa.

Jadi yah………

Rumah saya ada di atas bukit yang ada jurang di sana sini. Di salah satu peruahan yang cukup murah di antara perumahan lain di sekitarnya. Haha. Jalannya naik turun dan di sekelilingi banyak pohon. Buat mencapai sebuah minimarket saya perlu menempuh.. 100 meter. Kebetulan perumahan saya berada di antara 2 universitas, yang salah satunya menjadi tempat saya menambah ilmu nanti. Segala fasilitas umum, pasar, warnet, salaon, dan tetek bengeknya berada di sekitar area kampus. Jadi saya harus mendekati salah satu kampus tersebut untuk memenuhi kebetuhan saya. Melelahkan? nggak kok. Saya sudah bilang kan kalau dikelilingi pohon dan jurang? Dan sungguh, tempat ini enak dilihat. Sangat menyejukan mata. Pemandangan indah, Hal pertama yang menyenangkan hati saya ketika saya berangkat ke kota ini dengan segala pikiran buruk dan rasa putus asa yang mendalam. Ceilah, saya ngga bohong.

Kembali dari perjalan dan sampai di rumah, tipe 36 dengan warna serba putih dan abu-abu. Saya suka dengan rumah ini, setidaknya mungkin jauh dari idaman saya, tapi warna putih membuat saya tenang dan abu-abu satu warna yang menarik buat saya.

Dapur yang sempit, 3 kamar tidur, ruang tamu terbuka dan kamar mandi, yang sama. Hahaha. Sama seperti di rumah sebelumnya, kecil dengan nuansa biru. Ngga jauh berbeda sebenarnya. Hanya… tak seindah sebelumnya. ~kkk

Orang tua melengkapi semua fasilitas saya dan kakak. Kamar tidur terpisah, lengkap dengan sebuah lemari, kasur yang empuk, televisi dan kipas angin.

Sama dengan kebutuhan perkuliahan kami. Papa melengkapi semuanya. Bagi saya dan teman-teman, laptop itu barang yang cukup mahal yang orang tua kami tidak mungkin dengan mudah membelikannya dan jika kami punya seorang saudara, kami hanya akan diberi 1 saja buat dipakai bersama. Tapi saat ini, saya katakan saya dan kakak punya laptop kami masing-masing.

Ya, terimakasih Tuhan buat anugerah ini, anugerah bahwa saya tau saya mendapat berkat yang lebih dari teman-teman saya. Terimakasih juga bahwa Tuhan sudah memberi tahu saya bahwa saya punya seorang ayah yang memberikan hasil jerih payahnya buat keluarga dan saya.

Itu hal kedua yang menyenangkan hati saya.

Berhari-hari yang lalu, saya sudah pergi ke kampus buat mengurus beberapa kepentingan. Ketika sudah sampai, masuk gerbangnya, turun dari mobil dan lihat sekitar. Semua gedung nya dinamakan dengan nama-nama Santo, yang sangat menarik buat saya. Lalu masuk ke gedung administrasi, dengan atap yang ngga tinggi, jadi terlihat nyaman sekali, rapi, bersih, dengan sebuah piano di tengah ruangan. Duh, saya langsung jatuh cinta dengan pemandangan ini. Selanjutnya saya mulai mengurus ini dan itu dan saya juga mulai tau kalau semua orang di sini ramah. beberapa menit kemudian ada seorang bule yang mengajak saya ngobrol, yang saya yakini seorang dosen. Saya jatuh cinta di tempat yang sama.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya melihat banyak cafe dan rumah makan yang sepertinya cukup menyenangkan. Banyak juga toko baju yang sepertinya menjual beberapa barang bermerek, karena bagi saya yang tidak pasaran pasti memiliki desain yang menarik, jadi pasti menyengkan.

Hal ketiga, dan hal keempat yang menyenangkan hati saya.

Neverland.

Kalau dalam sebuah dongeng, semua pasti ingin pergi ke tempat itu. Tapi dalam cerita ini saya bilang bahwa “Neverland” adalah “Tidak Pernah – Tanah” yang memang tidak pernah saya inginkan, saya bayangkan.

Tapi ternyata memang tidak ada yang tau bukan bagaimana sebuah Neverland itu?

Dan inilah saya di tempat ini. Saya salah atas banyak hal, dan ini menyenangkan.

Tapi tentu ini kan kisah saya, kisah nyata yang ngga diadaptasi dari buku, bukan dongen, jadi siapa yang tau gimana akhirnya kan. Saya cuma perlu membaca lagi sampai akhir, dan menceritakannya pada kalian.

August 1, 6:00pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

GPdI Pemulihan : Buah Yang Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Buah yang akan saya ceritakan adalah Gen-P. Generasi Pemulihan. Ya, mereka adalah jemaat remaja yang dengan setia bertumbuh bersama di tempat itu.

Awalnya juga mereka cuma anak-anak kecil yang datang ke sekolah minggu. Mereka yang dulu mungkin tidak bisa diandalkan dan begitu labil. Sekarang mereka sudah menginjak dewasa dan menunjukan kesiapan mereka buat melayani Tuhan.

Tahun lalu, kami diberi kepercayaan buat jadi panitia buat “Natal Biru” kami.

Roy, dia anak kecil yang dulu pemalu. Sekarang dia memegang tanggung jawab untuk OHP. Meskipun ya cuma duduk di delakang selama ibadah, tapi dia tekun menjalankan kewajibannya, terbukti dengan dia selalu datang pagi sebelum ibadah dimulai.

Yemima, salah satu tertua di antara kami yang juga seorang koordinator buat kaum muda. Dia sudah menjadi worship leader pada Minggu ibadah raya jauh sebelum kami.

Albert, dia pemain musik yang awalnya cuma ada di jadwal pemuda. Tapi kemampuan nya semakin mahir jadi dianggap sudah mampu buat melayani di ibadah raya. Dan sekarang pun jadi pemusik tetpa, baik di kamu muda atau pun di jadwal ibadah raya.

Sisanya, para remaja perempuan sudah siap buat jadi singer mendampingi worship leader. Dan remaja pria membantu beberapa hal fisik yang memang diperlukan

Yang terakhir adalah Vita. Yang baru pertama kali menjadi worship leader pada hari Minggu tepat dengan hengkangnya saya dan keluarga dari gereja tersebut. Ya kami harus mengikuti pekerjaan orang tua.

Bagi saya, pemuda di Pemulihan benar-benar seorang teman. Kami melewatkan banyak waktu bareng. Mulai dari kepentingan gereja sampai yang cuma keluar buat main.
Ngobrol soal Natal Biru. Desember 2014 tahun lalu, kami para remaja dipercaya buat jadi panitia natal tahun itu. Yah entah karena kami memang sudah bisa dipercaya atau memang orang dewasa nya yang ngga mau sibuk, hahahaha.

Tapi yang pasti kami merasa cukup bangga diberi kepercayaan seperti itu.

Persiapan pun dimulai dan masing-masing dari kami punya tugas sendiri. Ada yang mengurus masalah listrik yang berarti berkecimpung dengan kabel, alat musik, proyektor, laptop, lampu dan tetek bengeknya. Ada yang mengurus masalah dekor, itu pun dibagi jadi beberapa, dekor bagian tempat duduk jemaat dan dekor mimbar. Ya meskipun kadang yang berkewajiban suka ngelakuin hal lain yang bukan tanggung jawabnya. Hehe.

Saya sendiri punya tugas buat beli semua yang diperlukan dan saya lakukan bersama orang yang cukup klop dengan saya, anak sulung bapak gembala.

Sebenarnya ngga enak, karena itu berarti kami mesti naik motor sana sini. Tapi justru itu sih yang saya suka, secara nggak langsung kami bisa jalan-jalan keluar, lagi pula saya suka berbelanja, maksudnya bukan yang menghamburkan uang begitu, tapi pergi ke sebuah toko dan melihat banyak barang yang menarik buat saya, dan itu seru banget.

Kami biasanya mengerjakan itu semua mulai dari pagi, akrena natal biasanya tepat dengan hari libur. Sampai sore, kalau kami capek bakal pulang dulu buat mandi dan balik lagi. Beli makan bareng dan ngerjain semuanya sambil ngobrol.

Kadang ada satu dua hal di antara kami yang ngga klop dan bisa jadi perusak suasana, tapi ya toh untungnya semua bakal balik lagi ke waktu kita ketawa. Dan bakal mgga kerasa kalau udah mau hari-H.

Jadi natal tahun itu kami buat konsep serba biru. Waktu sudah pukul acaranya, jemaat yang dateng bakal pakai dresscode biru gitu. Ceritanya sih kami paksa mereka buat ngga boleh ada warna lain kecuali biru, kalaupun kepepet cuma boleh hitam atau putih buat aksesoris kecilnya. Kami jadi kelihatan kompak gitu lho.

Karena emang gerejanyanya yang sempit, malam itu ribuan jemaat datang, ceilah, dan seketika itu ruangan jadi panas, apalagi waktu penyalaan lilin malam kudus.

Ini foto kami waktu persiapan acara.

 

Pemuda yang jadi panitia waktu itu juga ngga bisa cuma jadi penonton. Ada yang dijadwal worshipleader, dua orang lain singer, pemain musik, dan operator proyektor, saya sendiri jadi sie dokumentasi bersama teman saya bermodal se-buah kamera, ya jadi kami bakal gantian pegang kameranya, lumayan lah kalau kami capek. Sampai suatu waktu batrainya habis dan terpaksa harus diisi ulang karena bakal ada sesi foto keluarga di akhir acara. Jadi ya, saya, dan teman saya, tidak ada kerjaan, kami pun, ber-santai-ria. Hahahaha.

Acara terus berjalan hingga berakhir dan semua jemaat dipersilahkann turun untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Kemudian sesi foto keluarga dan setelah selesai mereka pulang ke rumah masing-masing. Natal terindah bagi saya.

Selepas itu, pemuda ngga bisa pulang begitu saja. Kami mesti beres-beres gereja. Dan kami pun berkeringat luar biasa dengan baju pesta yang tidak menyerap keringat dan make up di wajah kami. Hahaha.

Kami pun pulang dan berencana mandi tepat pukul 9 malam waktu itu. Hahaha.

Minggu selanjutnya kami tetap melangsungkan ibadah seperti seperti biasa. Ketika jadwal ibadah pemuda, kami melakukan, apa itu yang disebut dengan melakukan pembahasan natal kemarin, ah! Evaluasi. Ya, supaya selanjutnya ngga mengulangi kesalahan dan kekuragan yang sama.

Ngomong-ngomong memang sih kami masih jauh dari sempurna, terlepas dari kami yang masih muda dan jumlah yang terbilang sedikit. Tapi toh acara berjalan sukses tanpa cacat dan kami amat sangat bangga sekali, lah, dengan hasil jerih payah kami. Saya pribadi sih merasa luar biasa, dibanding dengan beberapa pemuda di tempat lain, bahkan dibanding dengan teman-teman saya di sekolah, saya merasa dengan hal tersebut saya jadi punya pengalaman yang selangkah lebih maju dibanding dengan mereka.

Ini foto saat acara sedang berlangsung.

Mungkin bagi kalian sih ini cerita biasa kebanyakan orang, tapi bagi kami, saya, ini adalah cerita yang luar biasa, dimana terlihat jelas kalau kami bangkit dari keterpurukan kami.Tuhan Yesus memberkati.

July 15, 2015, 11:43am
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

GPdI Pemulihan : Berbuah Lebat

Sebuah biji bernama Pemulihan yang saya ceritakan sama seperti sebuah biji Sesawi. Kecil, memang, namun semua berawal dari permulaan kan. Sekarang biji itu sudah bertumbuh, meskipun harus menghadapi hama yang merusak pertumbuhan mereka. Tapi yang lebih menarik adalah akar nya telah menyebar dan sudah berbunga. Mungkin menunggu beberapa tahun lagi akan menghasilkan buah yang ranum. Dan tahun yang saya maksud adalah di tahun ini.

Mulai dari perintisan, mengalami pergantian jemaat, menghadapi permasalahan, berjuang, dan sekarang kami telah mendapati kemenangan. Waktu ibadah kami semakin membaik. Dan para pelayan Tuhan telah bertumbuh seiring waktu. Jemaat jadi dekat satu sama lain karena permasalahn yang kami hadapi. Bangku yang kosong saat ibadah juga sudah mulai terisi. Jadwal ibadah seperti ibadah raya, persekutuan doa, doa malam, sekolah minggu dan kaum muda berjalan dengan sangat baik.

Beberapa waktu, sekolah minggu kerap memberikan penampilan kecil saat ibadah raya. Meskipun cuma menyanyi bersama diiringi musik. Saya sempat menangis melihat mereka. Bangga dengan jiwa-jiwa kecil yang tau arti melayani Tuhan dan juga mau. Datang setiap sabtu sore, memuji Tuhan, mendengarkan firman, dan menjadi anak kecil yang baik, menurut saya. Saat acara-acara besar seperti paskah atau natal, mereka ngga jarang membantu buat persiapannya. Meskipun hal kecil, tapi kan membantu juga. Kadang juga, waktu liburan, beberapa anak sekolah minggu dan remaja suka main bareng di gereja. Entah nonton film yng disewa dari rental ataupun pergi jalan-jalan keluar dengan modal ngga lebih dari 30 ribu. Ibu-ibu juga sering ngobrol di luar jam ibadah. Ada yang punya usaha toko, pembuat kue, handmade tas, dan masih banyak lagi. Bapak-bapak juga orang yang menyenangkan buat saya pribadi, bukan orang tua keras yang slit diajak ngobrol. Malahan mereka cukup gaul di usianya dan itu membuat suasana di tempat itu memiliki harmoni yang cukup bagus. Ceilah.

Saya, pernah datang ke beberapa gereja atas ajakan teman saya. Perbandingan? wah gimana ya, saya bakal bilang kalau gereja mereka 2 tingkat lebih baik dari kami. Maksud saya dalam hal tempat dan fasilitas yang mereka miliki. Malahan, ketika saya berkunjung tepat pada hari penting misal paskah dan natal, acara yang mereka suguhkan menarik banget. Apalagi remaja mereka yang cukup kreatif dengan pergaulan mereka yang luas. Tapi yang saya rasakan tidak ada di sana adalah kedekatan antar jemaat seperti di Pemulihan. Bukannya enak kalau di gereja besar yang mewah. Hari minggu bisa jadi ajang buat fashion dan unjuk bakat. Cuma, entah kenapa sih, kalau saya ditanya buat hal kayak gitu, saya lebih suka seperti apa yang ada di Pemulihan. Berlebihan? Yah mungkin karena anda-anda yang membaca belum pernah merasakan kebahagiaan kami. Tapi sungguh, saya menjamin perbedaan yang akan dirasakan saat memasuki kehidupan kami.

July 13, 2015, 4:50pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

GPdI Pemulihan : Gulma dan Halma.

Masa di mana kami harus menunggu proses pembangunan sudah berlalu. Kini kami sudah bisa menempati gereja yang ada di lantai dua. Ruangan lebar dengan ukuran yang cukup luas buat hampir 50 orang dengan mimbar yang sepijak lebih tingga di bagian depan. Dengan 4 pilar bernuansa putih. Itu lah tempat baru kami. Alat musiknya memang masih sama, dengan kursi ijo yang itu itu. Hahaha.Tapi meskipun begitu, para jemaat senang dengan hal ini. Beberapa juga mulai memutuskan buat terjun juga ke pelayanan.

Ibadah raya jadi terasa berbeda dengan tempat yang lebih nyaman dan leluasa. Proyektor yang biasa kami pakai buat menampilkan lirik lagu juga diganti dengan mesin yang lebih canggih. Kursi ditata menjadi 3 bagian diselingi dengan jalan, leader, singer, dan pemain musik berada di depan di daerah mimbar, pintu kaca sudah tertutup dan ibadah pun dimulai.

Begitu kegiatan kami seterusnya dilakukan di gedung baru lantai 2 itu. Ada beberapa jemaat tambahan. Pelayan Tuhan semakin menggebu buat melayani Tuhan, dan semua terasa sudah sangat cukup buat kami. Tapi yah, segala sesuatunya ngga ada yang semulus dongeng kan. Suatu saat sebuah tanaman bakal berjumpa dengan gulma dan hama dalam kehidupan nya. Begitu juga dengan kami.

Di suatu waktu, yang sepertinya tahun 2010, terjadi sesuatu pada gereja kami. Ada sebuah perkara yang menurut para warga sekitar adalah salah bapak gembala kami. Menurut saya pribadi tidak sepenuhnya seperti itu, tapi warga terlalu cepat berkesimpulan dan menyangkut pautkan semuanya dengan gereja. Mereka berkata, karena permasalahan itu gereja dianggap mengganggu dan harus ditutup. Waktu itu Minggu pagi tepat saat kami sedang beribadah. Ibu gembala mendengar sesuatu di lantai bawah depan pastori. Yang ternyata adalah segerombolan massa yang mendemo kami. Sepertinya bakal menarik kalau kami tetap diam dan melangsungkan ibadah, mungkin saja kuasa Tuhan bakal dinyatakan saat itu, seperti cerita hebat dalam Alkitab. Ibu gembala juga memerintahkan jemaat buat tidak berhenti ibadah, dan terus berlutut untuk berdoa sedang para bapak-bapak bernegosiasi dengan massa.

Tapi mungkin bukan waktu yang tepat buat kami. Ibadah dihentikan dan kami harus pulang. Yang saya ingat saat itu beberapa remaja dan anak kecil menangis. Mungkin para remaja berpikir bahwa gereja tempat mereka mesti ditutup, tapi buat anak kecil mereka ngga tahu apa yang saat itu terjadi. Hal kedua yang saya ingat, ketika kami turun dari gereja dan keluar buat pulang, yang kebetuan rumah saya dekat jadi untuk sementara anak-anak ke rumah saya, ada beberapa warga yang berkata bahwa kami ngga perlu nangis, toh bakal ditutup juga, dengan senyum sinis di wajah mereka. Yang saya pikir saat itu, saya begitu kecewa. Beberapa di antara mereka adalah tetangga yang cukup mengenal saya, dan sekali waktu kami bertegur sapa bila berpapasan. Hari itu sangat tidak disangka bakal terjadi dalam kehidupan saya.

Lucunya. Saat saya dan teman-teman juga beberapa ibu-ibu sampai di rumah, kami tertawa setelah menangis dan ketakutan. Saya lupa apa yang kami tertawakan saat itu. Hari berlalu, dan sore menjelang. Kami memang pulang ke rumah masing-masing dengan beban. Tapi kebersamaan kami ngga membuat kami patah semangat untuk melayani Tuhan.

Minggu-minggu selanjutya kami tidak boleh melangsungkan ibadah di tempat itu lagi. Akhirnya setelah didiskusikan, kami memutuskan untuk melangsungkan ibadah di rumah beberapa jemaat yang bersediakan meminjamkan rumah mereka untuk sehari ibadah. Banyak hal yang kami perlukan buat ibadah. Keyboard untuk alat musik, proyektor, dan mimbar untuk worship leader dan pembawa firman. JAdi setiap minggu kami harus mengusung alat-alat tersebut ke rumah jemaat yang dituju supaya ibadah dapat berjalan dengan baik. Para remaja yang menjalankan itu harus naik motor dan merelakan mereka sendiri kerepotan dengan heels dan baju mereka. Sedang kursii-kursi yang banyak itu diangkut oleh seorang jemaat yang memiliki mobil PickUp.

Sepertinya kami seperti itu hampir setahun. Saya pribadi beberapa saat sempat lelah dengan perjalanan itu. Selang waktu itu, bapak gembala mencoba memebawa permasalahan ini pada pemerintahan setempat. Tapi mungkin terlalu banyak yang tidak mau kami beribadah, segala sesuatunya terasa rumit. Akhirnya bapak gembala memutuskan untuk kami mesti beribadah sekali dalam sebulan di gereja. Ya kami takut, tapi kata beliau, kalau tidak seperti ini Tuhan tidak akan campur tangan. Jadi kami terus berdoa selama beberapa waktu tahun itu. Setelah hanya sekali sebulan, kemudian diputuskan untuk 2 kali sebulan dan lalu keputusan pengadilan keluar bahwa kami boleh menetap di tempat itu atas nama Gereja GPdI Pemulihan. Itu adalah satu hal luar biasa yang saya rasakan sebagai jemaat di tempat itu dan saya tau, saya telah bertumbuh, begitu pun jemaat yang lain. Terimakasih Tuhan Yesus buat penyertaan dalam belasan tahun ini buat jemaat GPdI Pemulihan.

July 13, 2015, 4:21pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2

GPdI Pemulihan : Biji Yang Bertumbuh.

Ini cerita tentang saya sebagai seorang remaja. Karena di kasiah sebelumnya saya seorang anak-anak. ~kkK. Dari gereja yang berukuran 4×10 meter, gereja kami kini sudah dibangun. Pastori, rumah bapak gembala sekeluarga diperluas kemudian di bangun lantai 2 yang mana akan menjadi tempat buat gereja kami. Karena membutuhkan proses pembangunan yang tidak sebentar, diputuskan untuk membeli rumah kosong di samping gereja buat sementara kami beribadah.

Menjemukkan. Kenapa? rumah kecil tipe 24 dengan bangunan yang cukup rapuh di beberapa tempat dan rayap di beberapa, nggak, di semua jendela. ~kkk. Yah, ketika hari Minggu datang, pekarangan depan ditata sedemikian rupa dengan kursi-kursi ijo yang itu lalu dipasang sebuah tenda biru yang pada jam 9 pagi ke atas bakal jadi udara terburuk karena pengap luar biasa. Buat jadwal ibadah yang lain kayak pemuda dan sekolah Minggu dilangsungkan di dalam rumah. Kami lelah sebenarnya. Tapi, toh kami ketawa bareng. Saya sendiri lupa berapa lama saat-saat kayak gitu berlangsung. Yang pasti cukup lama dan cukup membuat jemaat satu sama lain saling mengenal dan jadi dekat.

Kalau ngga salah inget, tahun-tahun ini kayaknya saat dimana kami bersusah payah. Karena segala sesuatunya tidak instan atau tersedia, jadi kami mesti bongkar pasang buat ibadah. Juga kalau kami mau memberikan sebuah pertunjukan kecil, tempatnya sempit jadi kami mesti pintar atur ini itu. Belum lagi kalau hujan semua jadi basah dan pekarang becek, saya pribadi sedikit terganggu, tapi ya toh, kami bareng. Haha. Mungkin lama-lama bab nya ganti jadi “Kami Bareng”. Hahahaha.

Oh iya, ada beberapa jemaat juga yang hengkang dari gereja kami. Ada yang karena pekerjaan, ada pula alasan tertentu lain. Jadi ya jemaat nya tambah berkurang. Cukup terasa, tapi beberapa yang baru juga Tuhan tambah. Kami seneng punya keluarga baru yang bakal ngerasain banyak hal bareng kami. Tapi kadang juga kami rindu, munkgin suatu saat mereka yang pergi bakal berkunjung yah..

Saya lupa apa lagi yang bisa diceritakan di tahun itu. Yang pasti sih, cukup berat, ada cerita baru, membuka lembaran baru, dan menyenangkan. Oh! pengenalan yang belum lengkap. Bapak gembala kami itu pdt. Steven Sitorus, ibu gembala nya Ruth, dengan ketiga anak mereka, Grace Putri Ayu Angelica, Semaya, dan yang paling kecil Raja Petra Namora. Jln. Intan 3.3 no. 35 perumahan Kota Baru Driyorejo – Gresik, Jawa Timur. Gereja perintisan sederhana dengan jiwa-jiwa luar biasa.

July 13, 2015, 3:37pm.
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2