Neverland : meaning :: Tidak Pernah – Tanah

Kata di atas saya artikan sebagai Neverland dalam arti yang bodoh. Hahaha. Maksud saya, tanah yang ngga pernah terpikirkan sama saya. Selama 17 tahun saya tumbuh di Surabaya. Keputusan untuk pindah ke Semarang sebenarnya sudah ada bertahun-tahun lalu. Tapi mungkin karena keterbatasan ini dan itu jadi tertunda hingga 5 tahun lebih.

Dan 5 tahun itu terasa kayak kemarin buat saya. Tau-tau saya sudah ada di tempat ini, di kamar ini, dengan sebuah kartu perdana di tangan saya bertuliskan “Semarang” di sana.

Dulu saya bisa nolak kalau saya ngga mau pindah dari Surabaya. Setelah saya SMA dan saya sadar harus melanjutkan studi saya ke jenjang perkuliahan, saya bisa apa. Dan sekarang ini, saya cuma bisa ketawa.

Jadi yah………

Rumah saya ada di atas bukit yang ada jurang di sana sini. Di salah satu peruahan yang cukup murah di antara perumahan lain di sekitarnya. Haha. Jalannya naik turun dan di sekelilingi banyak pohon. Buat mencapai sebuah minimarket saya perlu menempuh.. 100 meter. Kebetulan perumahan saya berada di antara 2 universitas, yang salah satunya menjadi tempat saya menambah ilmu nanti. Segala fasilitas umum, pasar, warnet, salaon, dan tetek bengeknya berada di sekitar area kampus. Jadi saya harus mendekati salah satu kampus tersebut untuk memenuhi kebetuhan saya. Melelahkan? nggak kok. Saya sudah bilang kan kalau dikelilingi pohon dan jurang? Dan sungguh, tempat ini enak dilihat. Sangat menyejukan mata. Pemandangan indah, Hal pertama yang menyenangkan hati saya ketika saya berangkat ke kota ini dengan segala pikiran buruk dan rasa putus asa yang mendalam. Ceilah, saya ngga bohong.

Kembali dari perjalan dan sampai di rumah, tipe 36 dengan warna serba putih dan abu-abu. Saya suka dengan rumah ini, setidaknya mungkin jauh dari idaman saya, tapi warna putih membuat saya tenang dan abu-abu satu warna yang menarik buat saya.

Dapur yang sempit, 3 kamar tidur, ruang tamu terbuka dan kamar mandi, yang sama. Hahaha. Sama seperti di rumah sebelumnya, kecil dengan nuansa biru. Ngga jauh berbeda sebenarnya. Hanya… tak seindah sebelumnya. ~kkk

Orang tua melengkapi semua fasilitas saya dan kakak. Kamar tidur terpisah, lengkap dengan sebuah lemari, kasur yang empuk, televisi dan kipas angin.

Sama dengan kebutuhan perkuliahan kami. Papa melengkapi semuanya. Bagi saya dan teman-teman, laptop itu barang yang cukup mahal yang orang tua kami tidak mungkin dengan mudah membelikannya dan jika kami punya seorang saudara, kami hanya akan diberi 1 saja buat dipakai bersama. Tapi saat ini, saya katakan saya dan kakak punya laptop kami masing-masing.

Ya, terimakasih Tuhan buat anugerah ini, anugerah bahwa saya tau saya mendapat berkat yang lebih dari teman-teman saya. Terimakasih juga bahwa Tuhan sudah memberi tahu saya bahwa saya punya seorang ayah yang memberikan hasil jerih payahnya buat keluarga dan saya.

Itu hal kedua yang menyenangkan hati saya.

Berhari-hari yang lalu, saya sudah pergi ke kampus buat mengurus beberapa kepentingan. Ketika sudah sampai, masuk gerbangnya, turun dari mobil dan lihat sekitar. Semua gedung nya dinamakan dengan nama-nama Santo, yang sangat menarik buat saya. Lalu masuk ke gedung administrasi, dengan atap yang ngga tinggi, jadi terlihat nyaman sekali, rapi, bersih, dengan sebuah piano di tengah ruangan. Duh, saya langsung jatuh cinta dengan pemandangan ini. Selanjutnya saya mulai mengurus ini dan itu dan saya juga mulai tau kalau semua orang di sini ramah. beberapa menit kemudian ada seorang bule yang mengajak saya ngobrol, yang saya yakini seorang dosen. Saya jatuh cinta di tempat yang sama.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya melihat banyak cafe dan rumah makan yang sepertinya cukup menyenangkan. Banyak juga toko baju yang sepertinya menjual beberapa barang bermerek, karena bagi saya yang tidak pasaran pasti memiliki desain yang menarik, jadi pasti menyengkan.

Hal ketiga, dan hal keempat yang menyenangkan hati saya.

Neverland.

Kalau dalam sebuah dongeng, semua pasti ingin pergi ke tempat itu. Tapi dalam cerita ini saya bilang bahwa “Neverland” adalah “Tidak Pernah – Tanah” yang memang tidak pernah saya inginkan, saya bayangkan.

Tapi ternyata memang tidak ada yang tau bukan bagaimana sebuah Neverland itu?

Dan inilah saya di tempat ini. Saya salah atas banyak hal, dan ini menyenangkan.

Tapi tentu ini kan kisah saya, kisah nyata yang ngga diadaptasi dari buku, bukan dongen, jadi siapa yang tau gimana akhirnya kan. Saya cuma perlu membaca lagi sampai akhir, dan menceritakannya pada kalian.

August 1, 6:00pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s