GPdI Pemulihan : Sebuah Biji Sesawi.

Jadi awalnya saya ingin bercerita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan sentuhan kalbu, tapi, sayangnya saya berpikir bahwa apa yang akan saya sampaikan nanti tidak akan sampai ke hati para pembaca. Jadi saya putuskan untuk menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. ~kkk

Ini kisah sebuah gereja yang lebih tepatnya pernah menjadi tempat buat keluarga dan saya singgah untuk waktu yang lama. Dirintis oleh bapak dan ibu gembala yang ramah untuk seseorang bersuku Batak dengan 2 orang putri dan seorang putra. Waktu itu keluarga dan saya bergabung saat saya masih di bangku kanak-kanak yang kira-kira sekitar tahun 2003. Yah, masih sederhana sekali tempatnya. Ruangan 4×10 meter mungkin, alat musiknya juga cuma keyboard super canggih. Maksudnya, piano, sekaligus efek gitar, efek bass, dan efek drum. Jadi ceritanya paket komplit buat gereja sederhana tergolong masih kere. Jemaat nya juga masih sedikit, sekitar 50 orang termasuk dewasa, remaja, dan anak kecil, juga anak baru lahir. Pelayannya juga masih bisa dihitung si dia, dia, dan dia. Ibadah pada waktu itu cuma pakai kursi plastik warna ijo yang sekarang saya sendiri ngga tau kemana, lebih tepatnya saya memang tidak tau apa-apa. ~kkk. Saking sedikitnya jemaat nih, saya sepertinya hafal nama semua orang dari yang baru berumur sampai sudah berumur.

Kalau natal, kami menyewa tempat di pusat perumahan yang kayaknya mahal tapi ngga tau lagi sih. Jadi jemaat bisa bawa keluarga mereka yang ngga berjemaat di Pemulihan. Terus biasanya juga undang Sinterklas sama Pit Hitam. Yang seru itu hari-hari persiapan buat acara natal. Jemaat pasti bakal sering ke gereja kumpul bareng. Ibu-ibu nya masak. Bapak-bapak nya ngurusin panggung dan tetek bengeknya. Yang remaja pada kreatif nyusun acara ini itu. Yang anak-anak, yah main lah. ~kkk. Terus kalau udah hari-H nya, si ibu-ibu sama remaja pasti pada ngilang, ke salon.

Oh iya, jadi di Pemulihan itu kadang bakal dateng beberapa hamba Tuhan yang menetap buat beberapa bulan atau mungkin tahun. Mereka bakal bantu kita dalam banyak hal pelayanan. Mereka tinggal di pastori, rumah bapak ibu gembala yang jadi 1 atap juga sama gereja.

Nah tahun pertama keluarga dan saya berjemaat disana, ada beberapa hamba Tuhan yang datang yang salah satunya adalah, kita sebut, kak May.

Jadi waktu natal itu dia ngajarin kaum muda buat nampilin lagu sambil nari dan di akhir lagu ditutup dengan dia ber-split-ria dengan badan nya yang bohai hampir berlebih membuat aku ber-nganga-ria. Terus hamba Tuhan lain yang namanya om manuel, dia sebenernya bercita-cita jadi polisi, tapi apalah daya tangan tak sampai, tinggi tubuh ini tak mengijinkan. ~kkk. Tapi jangan salah, beliau, ceilah, kalau bawain firman ke sekolah minggu, sebutan buat  jemaat anak-anak, enak banget, dia ngerti apa yang bisa kita tangkep dengan mudah waktu kita dengerin firman. Lainnya, punya nama Jonny, om satu ini punya cacat di matanya, yang disebut dengan juling. Bukan buat mengolok, tapi mau nunjukin kalau dengan kekurangannya itu, om Jonny melayani Tuhan dengan sepeneuh hati dan selalu senyum ramah yang jadi buat orang lain mandang dia ngga sebelah mata. Oke itu tentang 3 hamba Tuhan pendatang di tahun pertama keluarga dan saya gabung di gereja GPdI Pemulihan.

Bertahun-tahun kemudian. Gereja udah semakin membaik, tapi, cerita tentang itu nanti. Masih seputar hamba Tuhan pendatang, kali ini ada yang baru, namanya Ida, kami panggil tante Ida, ya karena emang ngga muda. ~kkk. Tante Ida jadi hamba Tuhan pertama yang bawa tarian Tamborin ke kami. Dan bertepatan sama Natal juga, tante ngajarin kaum muda tari Tamborin dengan bantuan piring plastik. Yah, karena emang Tamborinnya sendiri mahal, jadi sebelum hari-H kami latihan pake itu dulu. Tapi rasanya seru banget, karena bukan fasilitas mewah yang buat kami kayak gitu, tapi karena kami merasakan ketidakmewahan itu, bareng. Hehehehe. Keren ya omongan saya. Yang terakhir, namanya Rosna. Sebenernya kakak yang satu itu bukan hamba Tuhan, melainkan adik ibu gembala sendiri yang sengaja dititipkan di Jawa karena alasan tertentu. Dia tinggal bersama di Pastori, dan sudah memberikan dukungan yang begitu besar dan luar biasa. Mulai dari urusan rumah tangga pastori, bapak ibu gembala dan anak-anaknya, juga ga jarang terjun buat melayani Tuhan. Saya pribadi orang yang melewatkan banyak waktu sama kakak itu. Oh ya, dia dipanggil Bou Rosna, menurut adat Batak sih. Bou tuh orang nya baik dan tekun, rajin, juga pekerja keras. Sekarang Bou sudah ada di Malaysia mungkin sejak 5 tahun yang lalu, yah mungkin lebih. Saya sayang kak Ros. ~kkk

Segelintir kisah tentang gereja GPdI Pemulihan. Tanaman, kisah ini baru sebuah biji yang belum berakar atau bahkan bertumbuh. Masih ada cerita selanjutnya yang menurut saya, pantas buat dibaca kok.

July 12, 2015, 1:10pm.
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s