GPdI Pemulihan : Gulma dan Halma.

Masa di mana kami harus menunggu proses pembangunan sudah berlalu. Kini kami sudah bisa menempati gereja yang ada di lantai dua. Ruangan lebar dengan ukuran yang cukup luas buat hampir 50 orang dengan mimbar yang sepijak lebih tingga di bagian depan. Dengan 4 pilar bernuansa putih. Itu lah tempat baru kami. Alat musiknya memang masih sama, dengan kursi ijo yang itu itu. Hahaha.Tapi meskipun begitu, para jemaat senang dengan hal ini. Beberapa juga mulai memutuskan buat terjun juga ke pelayanan.

Ibadah raya jadi terasa berbeda dengan tempat yang lebih nyaman dan leluasa. Proyektor yang biasa kami pakai buat menampilkan lirik lagu juga diganti dengan mesin yang lebih canggih. Kursi ditata menjadi 3 bagian diselingi dengan jalan, leader, singer, dan pemain musik berada di depan di daerah mimbar, pintu kaca sudah tertutup dan ibadah pun dimulai.

Begitu kegiatan kami seterusnya dilakukan di gedung baru lantai 2 itu. Ada beberapa jemaat tambahan. Pelayan Tuhan semakin menggebu buat melayani Tuhan, dan semua terasa sudah sangat cukup buat kami. Tapi yah, segala sesuatunya ngga ada yang semulus dongeng kan. Suatu saat sebuah tanaman bakal berjumpa dengan gulma dan hama dalam kehidupan nya. Begitu juga dengan kami.

Di suatu waktu, yang sepertinya tahun 2010, terjadi sesuatu pada gereja kami. Ada sebuah perkara yang menurut para warga sekitar adalah salah bapak gembala kami. Menurut saya pribadi tidak sepenuhnya seperti itu, tapi warga terlalu cepat berkesimpulan dan menyangkut pautkan semuanya dengan gereja. Mereka berkata, karena permasalahan itu gereja dianggap mengganggu dan harus ditutup. Waktu itu Minggu pagi tepat saat kami sedang beribadah. Ibu gembala mendengar sesuatu di lantai bawah depan pastori. Yang ternyata adalah segerombolan massa yang mendemo kami. Sepertinya bakal menarik kalau kami tetap diam dan melangsungkan ibadah, mungkin saja kuasa Tuhan bakal dinyatakan saat itu, seperti cerita hebat dalam Alkitab. Ibu gembala juga memerintahkan jemaat buat tidak berhenti ibadah, dan terus berlutut untuk berdoa sedang para bapak-bapak bernegosiasi dengan massa.

Tapi mungkin bukan waktu yang tepat buat kami. Ibadah dihentikan dan kami harus pulang. Yang saya ingat saat itu beberapa remaja dan anak kecil menangis. Mungkin para remaja berpikir bahwa gereja tempat mereka mesti ditutup, tapi buat anak kecil mereka ngga tahu apa yang saat itu terjadi. Hal kedua yang saya ingat, ketika kami turun dari gereja dan keluar buat pulang, yang kebetuan rumah saya dekat jadi untuk sementara anak-anak ke rumah saya, ada beberapa warga yang berkata bahwa kami ngga perlu nangis, toh bakal ditutup juga, dengan senyum sinis di wajah mereka. Yang saya pikir saat itu, saya begitu kecewa. Beberapa di antara mereka adalah tetangga yang cukup mengenal saya, dan sekali waktu kami bertegur sapa bila berpapasan. Hari itu sangat tidak disangka bakal terjadi dalam kehidupan saya.

Lucunya. Saat saya dan teman-teman juga beberapa ibu-ibu sampai di rumah, kami tertawa setelah menangis dan ketakutan. Saya lupa apa yang kami tertawakan saat itu. Hari berlalu, dan sore menjelang. Kami memang pulang ke rumah masing-masing dengan beban. Tapi kebersamaan kami ngga membuat kami patah semangat untuk melayani Tuhan.

Minggu-minggu selanjutya kami tidak boleh melangsungkan ibadah di tempat itu lagi. Akhirnya setelah didiskusikan, kami memutuskan untuk melangsungkan ibadah di rumah beberapa jemaat yang bersediakan meminjamkan rumah mereka untuk sehari ibadah. Banyak hal yang kami perlukan buat ibadah. Keyboard untuk alat musik, proyektor, dan mimbar untuk worship leader dan pembawa firman. JAdi setiap minggu kami harus mengusung alat-alat tersebut ke rumah jemaat yang dituju supaya ibadah dapat berjalan dengan baik. Para remaja yang menjalankan itu harus naik motor dan merelakan mereka sendiri kerepotan dengan heels dan baju mereka. Sedang kursii-kursi yang banyak itu diangkut oleh seorang jemaat yang memiliki mobil PickUp.

Sepertinya kami seperti itu hampir setahun. Saya pribadi beberapa saat sempat lelah dengan perjalanan itu. Selang waktu itu, bapak gembala mencoba memebawa permasalahan ini pada pemerintahan setempat. Tapi mungkin terlalu banyak yang tidak mau kami beribadah, segala sesuatunya terasa rumit. Akhirnya bapak gembala memutuskan untuk kami mesti beribadah sekali dalam sebulan di gereja. Ya kami takut, tapi kata beliau, kalau tidak seperti ini Tuhan tidak akan campur tangan. Jadi kami terus berdoa selama beberapa waktu tahun itu. Setelah hanya sekali sebulan, kemudian diputuskan untuk 2 kali sebulan dan lalu keputusan pengadilan keluar bahwa kami boleh menetap di tempat itu atas nama Gereja GPdI Pemulihan. Itu adalah satu hal luar biasa yang saya rasakan sebagai jemaat di tempat itu dan saya tau, saya telah bertumbuh, begitu pun jemaat yang lain. Terimakasih Tuhan Yesus buat penyertaan dalam belasan tahun ini buat jemaat GPdI Pemulihan.

July 13, 2015, 4:21pm
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s