GPdI Pemulihan : Biji Yang Bertumbuh.

Ini cerita tentang saya sebagai seorang remaja. Karena di kasiah sebelumnya saya seorang anak-anak. ~kkK. Dari gereja yang berukuran 4×10 meter, gereja kami kini sudah dibangun. Pastori, rumah bapak gembala sekeluarga diperluas kemudian di bangun lantai 2 yang mana akan menjadi tempat buat gereja kami. Karena membutuhkan proses pembangunan yang tidak sebentar, diputuskan untuk membeli rumah kosong di samping gereja buat sementara kami beribadah.

Menjemukkan. Kenapa? rumah kecil tipe 24 dengan bangunan yang cukup rapuh di beberapa tempat dan rayap di beberapa, nggak, di semua jendela. ~kkk. Yah, ketika hari Minggu datang, pekarangan depan ditata sedemikian rupa dengan kursi-kursi ijo yang itu lalu dipasang sebuah tenda biru yang pada jam 9 pagi ke atas bakal jadi udara terburuk karena pengap luar biasa. Buat jadwal ibadah yang lain kayak pemuda dan sekolah Minggu dilangsungkan di dalam rumah. Kami lelah sebenarnya. Tapi, toh kami ketawa bareng. Saya sendiri lupa berapa lama saat-saat kayak gitu berlangsung. Yang pasti cukup lama dan cukup membuat jemaat satu sama lain saling mengenal dan jadi dekat.

Kalau ngga salah inget, tahun-tahun ini kayaknya saat dimana kami bersusah payah. Karena segala sesuatunya tidak instan atau tersedia, jadi kami mesti bongkar pasang buat ibadah. Juga kalau kami mau memberikan sebuah pertunjukan kecil, tempatnya sempit jadi kami mesti pintar atur ini itu. Belum lagi kalau hujan semua jadi basah dan pekarang becek, saya pribadi sedikit terganggu, tapi ya toh, kami bareng. Haha. Mungkin lama-lama bab nya ganti jadi “Kami Bareng”. Hahahaha.

Oh iya, ada beberapa jemaat juga yang hengkang dari gereja kami. Ada yang karena pekerjaan, ada pula alasan tertentu lain. Jadi ya jemaat nya tambah berkurang. Cukup terasa, tapi beberapa yang baru juga Tuhan tambah. Kami seneng punya keluarga baru yang bakal ngerasain banyak hal bareng kami. Tapi kadang juga kami rindu, munkgin suatu saat mereka yang pergi bakal berkunjung yah..

Saya lupa apa lagi yang bisa diceritakan di tahun itu. Yang pasti sih, cukup berat, ada cerita baru, membuka lembaran baru, dan menyenangkan. Oh! pengenalan yang belum lengkap. Bapak gembala kami itu pdt. Steven Sitorus, ibu gembala nya Ruth, dengan ketiga anak mereka, Grace Putri Ayu Angelica, Semaya, dan yang paling kecil Raja Petra Namora. Jln. Intan 3.3 no. 35 perumahan Kota Baru Driyorejo – Gresik, Jawa Timur. Gereja perintisan sederhana dengan jiwa-jiwa luar biasa.

July 13, 2015, 3:37pm.
Semarang, Gunung Pati – Perumahan Bukit Sukorejo blok G no. 2
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s